Monday, July 27, 2009

Sejenak

إنا لله وإنا إليه راجعون
________________
بسم الله الرحمن الرحيم
"ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين * الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون * أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون"

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 155-157)

Telah berpulang ke Rahmatullah Ta’ala Syaikh kita, Imam kita, Ayahanda kita Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Ibnu Jibrin pada jam 14.00, ba’da Zhuhur waktu setempat, hari Senin, Tanggal: 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).

(Insya Allah Ta’ala) beliau akan dishalatkan pada hari selasa, tanggal: 21 Rajab 1430 H (14 Juli 2009 M) Zhuhur waktu setempat di Masjid Jami’ al-Imam Turki Bin Abdullah (Masjid Besar) di Kota Riyadh. Serta akan dimakamkan di pemakaman al-‘Aud.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepadanya, membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa dan kebaikan beliau kepada kaum muslimin, dan semoga Allah mengumpulkannya bersama para malaikat di dalam Surga Firdaus. Sesungguhnya Dia (Allah) Wali atas hal itu dan Dia Maha Kuasa atasnya.


وإنا لله وإنا إليه راجعون

Maktab Syaikh Abdullah al-Jibrin
Senin, 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).
(http://ibn-jebreen.com/An)

Berita Terkait:

Biografi Syaikh Ibnu Jibrin

Nama dan silsilah keturunan:
Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin. Silsilahnya bersambung sampai ke kabilah Bani Zaid.

Kelahiran:
Lahir tahun 1349 H. di desa Muhairaqa, Qowaiea. Terletak sekitar 180 km dari ibu kota Riyadh.

Pendidikan:
Setefah usianya genap satu tahun, mereka pindah ke Rayan. Di kota kecil itu orang tuanya memasukkannya sekolah tahun 1358 H. Mulailah beliau belajar membaca dan menulis sampai tahun 1364 H. Setelah itu beliau mulai menghafal al-Quran. Sebagian al-Quran berhasil beliau hafal khususnya bagian sepertiga terakhir dan sisanya beliau belajar dengan ayahnya Syaikh Abdurrahman sambil menghapal hadits nabawi yang empat puluh termasuk mempelajarinya sebagai ilmu¬ilmu dasar. Pada tahun 1467 H, beliau mengajukan permohonan belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Sythry -rahimahullah- agar bisa ikut belajar '(menjadi muridnya), akan tapi sang Syaikh tidak mau menerima murid, jika murid tersebut belum hafal al-Quran 30 juz. Akhirnya Syaikh Jibrin berusaha berkonsentrasi menghafal al-Quran hingga menghafalnya dengan betul, dan hafalannya selesai tepat pada penghujung tahun.

Setelah itu barulah beliau belajar dengan Syaikh Sythry dengan jadwal setiap sehabis sholat Subuh, dilanjutkan lagi di waktu duha (pagi), kemudian satu jam setelah sholat Ashar dan setelah sholat Maghrib hingga masuk waktu sholat Isya.

Buku-buku yang dipelajarinya pun bervariasi; mulai dari buku-buku ringkas seperti: Zaadul Mustaqniq, `Umdatul Kalam, al-Arba'in an-Nabawiyah, Kitabut Tauhid, Tsalatsatu Ushul, Syuruth as-Shalah, Adabul Masyi ila as-Shalah, AI Ilqidah al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah. Untuk pelajaran Nahwu dan Shorof, beliau mempelajari buku Matan AI Ujrumiyah. Dalam hal pelajaran Faraid, beliau mempelajari buku ar-Rahabiyah. Begitu juga beliau belajar pakai buku-buku syarah besar, seperti buku: Subulus Salam, Syarh a!-Arba'in an-Nabawiyah karangan Ibnu Rajab, buku Tarikh karangan Ibnu Katsir berikut dengan kitab Tafsirnya, Tarsir Ibnu Jarir at-Thabari, Syarh Masa'il al-Jahiliyah karangan Mahmud al-Alusi al-Iraqi, buku tafsir an-Naisaburi yang berjudul Gharaib al-Quran, dan masih banyak lagi buku-buku syarah dan karangan-karangan ulama baik itu yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak. Selama masa belajar, beliau tidak henti-hentinya mengulang hafalan al-Quran. Setelah ayahnya wafat, beliau sholat Jum'at dan berjamaah di Mesjid Raya.

Belajar ke luar daerah:
Beliau menamatkan studi di Ma'had Imam Dakwah, Riyadh tahun 1381 H. Setelah itu beliau diterima menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sama. Beliau bekerja sebagai tenaga pengajar hingga berikutnya beliau diminta pindah ke Universitas Imam Muhammad bin Sa'ud Islamiyah menjadi dosen di Fakultas Syariah dan Ushuluddin tahun 1395 H. yaitu sebelum dua kuliah tersebut dipisah menjadi dua. Beliau masuk sebagai staf akademik fakultas tersebut dan selama aktif di sana telah banyak membimbing disertasi Magister.

Pada tahun 1402 H, ditetapkan sebagai anggota komisi fatwa di Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa, dekat dengan gurunya Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah. Pengabdiannya di dewan tersebut merupakan akhir karimya dan setelah itu ia memasuki masa pensiun di bulan Rajab 1418 H. Semoga Allah senantiasa menjaganya. Syaikh Jibrin meraih gelar Magister dari Perguruan Tinggi Kehakiman tahun 1390 H. dengan judul disertasi "Akhbar al-Aahad fi al-Hadits an-Nabawi" dengan yudisium cumlaud. Gelar doktornya diraih dari perguruan tinggi yang sama pada tahun 1407 H. mentahqiq (investigasi) terhadap buku "Syarah az-Zarkasy 'ala Mukhtashar al-Khuraqi" dengan yudisium cumlaud level pertama. Dalam disertasi itu ia bertugas mentaqhiq dan mentakhrij (foot¬note) hadits sebanyak 7 jilid buku dan buku-buku itu sekarang dicetak dan beredar di toko-toko buku.

Kegiatan harian:
Jadwal kegiatan harian Syaikh dimulai dari setelah shalat Subuh memberikan ceramah di salah satu masjid sampai matahari terbit, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat. Setelah istirahat, berangkat ke kantor Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa. Di kantor, beliau menjawab pelbagai pertanyaan tentang masalah keagamaan.

Meskipun penanya-penanya itu ramai setiap hari, beliau tidak pernah jenuh. Beliau siap membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, dan meringankan beban siapapun yang memerlukan. Beliau bersedia mengangkat dering telepon penanya. Pesawat teleponnya tidak pernah berhenti berdering. Demikianlah kesibukannya sehari-hari. Kerap kali beliau orang yang paling terakhir pulang dari kantor Fatwa, bahkan beliau sendiri yang mematikan lampu-lampu. Setelah shalat Ashar rumahnya terbuka untuk umum, juga beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang masalah agama. Kalau perlu, beliau memberikan orientasi, atau memberikan rekomendasi bagi siapa saja yang membutuhkan, sampai masuk waktu Maghrib. Kemudian, beliau berangkat ke salah satu masjid di kota Riyad untuk mengisi jadwal pengajian mingguan, mengingat jumlah jadwal pengajiannya dalam seminggu sampai sebelas kali. Setelah shalat Isya berangkat lagi ke masjid lain, kadang mengisi pengajian, atau seminar dan lain-lain. Demikianlah jadwal harian Syaikh yang sarat dengan muatan dakwah kepada Allah sepanjang pekan. Semoga martabatnya ditinggikan Allah di sisi-Nya.

Keistimewaan Syaikh:
Syaikh dikenal sebagai orang yang tawadhu (rendah hati). Beliau sedikit bicara dan tidak akan bicara, kalau tidak karena menjawab pertanyaan. Kalau ulama lain berseberangan pendapat dengannya mengenai suatu hukum atau fatwa syariah, dengan tawadhu beliau mengatakan, "Mereka adalah ulama dan kita mesti menghormatinya." Dalam hal menanggapi pendapat ulama lain, beliau tidak mau mendebat dengan cara yang kasar dan radikal. Apabila Syaikh Jibrin diundang mengisi pengajian atau ceramah agama di daerah manapun, beliau tidak pernah menolak, selama dirinya tidak terikat dengan jadwal atau janji pada pihak lain. Syaikh Jibrin senantiasa berbaik sangka dan tidak pernah merasa iri terhadap siapapun dari kaum ahli sunnah wal jamaah, -sepengetahuan saya dan hanya Allahlah yang lebih tahu- beliau selalu tawadhu dalam segala hal. Orang-orang yang mengenalnya pasti menyukainya karena kelapangan hatinya. Tidak mau menolak pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang yang minta bantuan. Beliau penuhi permintaan mereka sendirian. Segenap waktunya adalah pengabdian kepada Allah dan agama. Hidupnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah atau dengan sabda-sabda Rasulullah saw. Menurut hemat saya - wallahu'alam- martabat dan ketinggian yang ada padanya, dikarenakan ketawadhuannya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Imam Ahmad, "Barangsiapa yang bersikap tawadhu', Allah pasti akan mengangkat martabatnya." Apalagi bagi seorang yang diberi ilmu pengetahuan, wara' dan tawadhu'. Semoga Allah mengampuni kita semua, kita dapat meraih surga dan terhindar dari siksa neraka. Washallahu wa sallam `ala Muhammad wa alihi wa shahbihi.

Buku-buku karangan:
1. Syarh az-Zarkasyi 'Ala Mukhtashar al-Khurafi; Dirasah wa Tahqiq.
2. Akhbar al-Ahad fi Hadits an-Nabawi.
3. At-Ta'liqaat Ala Matn Lam'ah al-1'tiqad.
4. Fadhlllmi wa Wujub at-Ta'allum.
5. AhammiyahAl `flmi wa MakanatuAl `Ulama'.
6. Majmu' Fatawa wa Rasa'il as-Syaikh Abdullah al-Jibrin.
7. AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Musafir (173 hukum).
8. AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Adzaan (123 hukum).
9. Al `llam bi Kufri Man Ibtagha Ghairu al-Islam.
10. As-Siraj al-Wahhaj Lil Mu'tamir wal Hajj.
11. As-Shiyam: Adab waAhkam.
12. Khawathir Ramadhaniyah.
13. Fatawa Adz-Dzakah.
14. AI-Islam baina al-GF.alw wa al-Jafa' wa al-Ifrath wa Tafrith.
15. Fitan Hadza az-Zaman.
16. AI-Wala' wa al-Barra'.
17. Haqiqatullltizam.
18. AI-Adab wa al-Akhlaq asy-Syar'iah.
19. Fatawa waAhkam fi Nabiyullah Isa 'Alaihis Salam.
20. Syarh AI 'Aqidah al-Wasatiyah.
21. Syarh Kitab at-Tauhid.
22. Fawaid min Syarh Kitab Manar as-Sabil.
23. Fawaid min Syarh Kitab at-Tauhid.
24. AI-Amanah.
25. AI-Hajj: Manafi'uhu waAtsaruhu.
26. As-Salaf Ash-Shalih baina al-Ilmu wa al-Iman.
27. AI-Bida' wa al-Muhadditsat fi AI-Aqaid waAl-A'mal.
28. Muharramat Mutamakkinah fi Al Ummah.
29. AI-Jawab al-Faiq fi ar-Radd Ala Mubdil al-Haqaiq.
30. Asy-Syahadatan Ma'nahuma wa Ma Tastalzimuhu Kullu minhuma.
31. Syarh Kitab Minhaju as-Salikin.

Innalillah wa inna ilaihi roji'un
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”. (Shahih Al-Bukhari, Kitaabul- ‘Ilmi, Baab Kaifa Yaqbidlul-‘Ilm (1/194 – bersama Fathul-Bariy), dan Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli wal-Fitan (16/223-224 – bersama Syarh An-Nawawiy). Sumber: http://www.alsofwah.or.id

Sunday, July 12, 2009

Tingkat amalan tanpa mengira bulan

Bersama Ustaz Zahazan Mohamed

Rejab adalah salah bulan Islam yang dianggap suci oleh umat Islam dan ia menduduki senarai ketujuh bulan Qamariyyah.

Firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 36 yang bermaksud: “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah 12 bulan (yang sudah ditetapkan) dalam kitab Allah semasa ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati, ketetapan yang demikian ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiayai diri kamu dalam bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangannya). Dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang yang bertakwa”.

Empat bulan yang dihormati yang tersenarai dalam ayat berkenaan ialah Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rejab. Inilah yang sudah dipersetujui kalangan mufassirin. Penghormatan terhadap Rejab bersempena penghormatan yang sudah diberikan kepadanya sejak zaman jahiliah lagi yang mana mereka mengharamkan peperangan pada bulan itu. Inilah sesuatu pengiktirafan oleh Allah SWT ke atas Rejab disamping bulan haram yang lain. Sejarah Islam turut mencatatkan beberapa peristiwa penting berlaku pada Rejab, di antaranya:

* Peristiwa Israk dan Mikraj yang berlaku pada 27 Rejab mengikut pendapat sebahagian besar ulama Islam. Ia peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dari Makkah ke Baitulmaqdis dan kemudian diangkat ke langit untuk bertemu Allah SWT. Di sinilah bermulanya kefarduan solat lima waktu kepada umat Muhammad SAW.

*Peristiwa Hijrah yang pertama ke negeri Habsyah oleh beberapa sahabat Rasulullah SAW termasuk Saidina Uthman Bin Affan dan isterinya Ruqayyah binti Rasulullah SAW. Penghijrahan ini bertujuan menyelamatkan akidah di samping keselamatan diri berikutan tekanan dan ancaman hebat oleh puak Musyrikin Mekah ketika itu.

*Peristiwa Perang Tabuk yang berlaku pada tahun ke-9 Hijrah. Ia peperangan yang menguji iman sahabat kerana berlaku pada musim panas. Pertempuran ini dipimpin oleh Rasulullah SAW sendiri untuk menentang tentera Rom yang ingin mengembangkan pengaruhnya ke Semenanjung Tanah Arab. Walaubagaimana pun pertempuran tidak berlaku kerana tentera Rom membatalkan hasrat mereka lantaran perasaan gentar dan takut dengan kehebatan dan kekentalan jiwa tentera Islam. Selain itu, ada juga peristiwa penting lain yang berlaku pada bulan yang mulia ini seperti kelahiran imam ahli sunnah, Imam As-Shafie yang menjadi ikutan mazhab umat Islam di tanah air iaitu dalam bulan Rejab tahun 150 Hijrah bersamaan 767 Masihi. Demikian juga peristiwa bersejarah pembebasan semula Palestin dan kota Baitulmaqdis oleh Solahuddin Al-Ayubi daripada kekuasaan tentera salib juga berlaku pada Rejab iaitu sekitar 27 Rejab 538 Hijrah.

Ada sesetengah umat Islam akan berpuasa sunat pada Rejab dan ada yang akan pergi menunaikan umrah kerana menganggap umrah yang dilakukan itu ada fadilatnya yang khusus. Tidak kurang juga umat Islam yang berusaha memperbanyakkan sedekah pada bulan ini dengan beranggapan mereka akan mendapat ganjaran yang berlipat kali ganda berbanding bulan lain. Namun, kebanyakan ulama mutakhirin menyatakan tanggapan ibadat sunat ini akan mendapat ganjaran berpuluh kali ganda atau beribu kali ganda adalah tidak benar. Apa yang pasti, bulan ini termasuk dalam kelompok bulan haram yang mana umat Islam digalakkan meningkatkan ibadat sunat sama ada solat sunat, berpuasa, bersedekah atau lain-lain lagi. Hakikat ganjaran disediakan oleh Allah SWT kepada orang yang beramal salih, hanya Dia saja yang Maha Mengetahui. Oleh kerana itu sudah sewajarnyalah baik pada Rejab ini dan juga bulan lain, diisi dengan perkara yang dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan mendapat keredaan-Nya.

Ada banyak hadis nabi dan ayat al-Quran yang memberikan galakan kepada umat Islam untuk melakukan sesuatu amal ibadat tanpa mengira bulan mana mereka melaksanakannya. Oleh itu, bersempena Rejab ini banyak amalan sunat yang boleh dilaksanakan seperti bulan yang lain iaitu:

*Berpuasa sunat Isnin dan Khamis atau berpuasa sebahagian daripada Rejab. Amalan berpuasa sunat adalah satu galakan daripada Allah SWT kepada umat Muhammad SAW seperti dinyatakan sebuah hadis qudsi riwayat Imam Al-Bukhari yang bermaksud, “Sabda Rasulullah s.a.w: “Allah SWT berfirman bahawa puasa itu adalah untukKu maka Akulah yang akan membalasnya”. Imam Muslim pula meriwayatkan daripada Uthman bin Hakim Al-Ansori, beliau (Uthman) pernah bertanyakan kepada Said bin Jubair mengenai puasa Rejab. Said menjawab “Aku mendengar Ibnu Abbas menyatakan: “Rasulullah SAW berpuasa rejab sehingga kami menyangka Baginda tidak berbuka (terus menerus berpuasa) dan Baginda berbuka sehingga tidak nampak berpuasa”.

*Memperbanyak sedekah terutama kepada golongan fakir miskin. Ini berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Hakim bin Hizam yang bermaksud “Tangan yang diatas (pemberi) lebih baik dari dari tangan yang di bawah (penerima)”.

*Memperbanyakkan zikir dengan cara berwirid, bertahmid, bertasbih dan sebagainya. Firman Allah SWT dalam surah al-Ra’d ayat ke 28 yang bermaksud: “Hanya dengan mengingati Allah akan menjadi tenang dan tenteram hati manusia”. Demikianlah sebahagian amalan sunat yang amat digalakkan kepada umat Islam untuk melaksanakannya. Amalan ini jika diamalkan penuh keikhlasan, sudah pasti akan dapat melahirkan insan yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT dan sekali gus mengelak mereka terjerumus ke dalam perkara maksiat dan masalah sosial lain. Malangnya, amalan mulia sebegini sering ditinggalkan oleh sebahagian umat Islam sama ada oleh golongan muda mahupun golongan tua. Akibatnya, mereka lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan terbabit dengan pelbagai bentuk kegiatan jenayah. Al-Imam al-Nawawi mengkhususkan suatu bab dalam karya ulungnya Riyadhus Salihin, mengenai keutamaan beriltizam dengan surah tertentu dan juga wirid yang khusus sebagai satu komponen yang penting membentuk peribadi salih. Ini termasuk keutamaan membaca al-Fatihah, ayat Kursi, dua ayat terakhir surah al-Baqarah, surah al-Mulk dan tiga Qul (al-Ikhlas, al-Falaq & al-Naas).

Saturday, July 11, 2009

Puisi:Kali Pertama dan Kedua

Dulu

Satu hari yang cukup indah bagiku

Terasa diri ini asing pabila memanggilmu

Tetapi semuanya berlaku

Setiap detik yang membuatku risau tentangmu

Tetapi apakan daya harapanku ditolak mentah-mentah olehmu

Adakah ku tidak layak bagimu?

Atau hanya angan-angan yang besar yang sentiasa merosakkan perancangan hidupku?

Namun aku tidak berputus asa menggenggam erat janji-janji hidupku

Setelah sekian lama ku bertungkus lumus dalam arus dunia

Yang penuh ke’fanaa’an

Bersepah-sepah hiburan

Bagaikan manusia yang kebuluran

Apabila rezeki yang diperoleh dari Tuhan

Tidak disyukuri serta beriman



Kali kedua ku memangil-manggilmu

Akan tetapi ku diterima bulat-bulat darimu

Namun hati yang tergores dahulu

Membuatkan ku terasa ingin berjauhan darimu

Arghh!

Mengapa aku berasa begitu?

Kali ini harapan yang muncul untukku

Dan bukan ku meminta mu

Dan aku rasa bersalah pada segenap waktu

Kerana telah menolak mu

Buat kali kedua yang terasa asing bagiku

Dan maafkan daku...


Ikhlas dari nuisza
(first puisi)
6.50 am
saturday 11 Julai 2009

UMS,Kota Kinabalu,Sabah.

Friday, July 10, 2009

Islaamic Laws

There are five types of Islaamic laws. They are follows:

1. Al-Fardh

2. Assunnah

3. Al-Haraam

4. Al-Makrooh

5. Al-Mubaah

AL-FARDH

It is such a law that whoever abides by it will be rewarded, and whosoever neglects it will
be punished. Fardh and Wajeeb always imply the same meaning except in the chapter of
Hajj.

ASSUNNAH

It is an instruction that there is reward for one who follows it. But there is no punishment
for one who does not act upon it. Sunnah, Mandoob and Mustahaab are of the same
meaning.

AL-HARAAM

It is such an act that whoever abstains from committing it will be rewarded, and whosever
commits it will be punished.

AL-MAKROOH

It refers to such a deed that whoever refrains from committing it will be rewarded. But
there is no punishment for one who commits it.

AL-MUBAAH

It is an act that there is no reward for one who observes it nor there is any punishment for
a person who leaves it off.

TYPES OF FARDH

Fardh is of two types:

1. Fardh Al-Ain

2. Fardh Al-Kifaayah

FARDH AL-AIN

It is an injunction which is necessary for every sane and adult to abide by individually. If
some people perform this command then it will not be accomplished from the rest.

FARDH AL-KIFAAYAH

It is such a ruling which is necessary for every sane and adult to observe individually. But
if some people perform it then this obligation will be accomplished from the rest.


AL-MUKALLAF

This term refers to every individual who is adult and sane.

QUESTION

1. How many Islaamic laws are there and what are they?

2. What is Fardh?

3. What is Sunnah?

4. What is Harram?

5. What is Makrooh?

6. What is Mubaah?

7. How many types of Fardh are there?

8. What is Fardh Al-Ain?

9. What is Fardh Al-Kiffayah?

10. Who is regarded as Mukallfaf?

Fiqh Ash-Shafi'ey Part 1

ISLAAM

It refers to submitting oneself to the teachings brought by the Prophet Sallalahu Alaihi
Wa Sallam abiding by the commands and refraining from the prohibitions.

ELEMENTS OF ISLAAM

There are four elements of Islaam. They are as follows:

1. Al-Qur’aan

2. Al-Hadeeth

3. Al-Ijmaa’

4. Al-Qiyaas

AL-QUR’AAN

The sacred scripture of Allaah Subhanahu Wa Ta’ala, which was revealed to the last and
final Prophet; Muhammad Sallalahu Alaihi Wa Sallam. The book guides people to their
religious and worldly affairs. It teaches man how to get preparation for the eternal life.

AL-HADEETH

The statements and practices of the Nabee Sallalahu Alaihi Wa Sallam which explain the
Qur’aanic teachings and direct mankind to those instructions.


AL-IJMAA’

The term Ijmaa’ is used for the unanimity of the Ulamaa on a religious matter in a way
that the majority of Muslims approve that unity.

AL-QIYAAS

It refers to comparing a matter, which bears no clear Islaamic evidence, with a similar
one on the basis of having common Illah-ground for Hukm-ruling.


QUESTION

1. What is Islaaam?

2. What are the elements of Islaam?

3. What is Qur’aan?

4. What is Hadeeth?

5. What is Ijamaa’?

6. What is Qiyaas?

Planner on Duties

Senarai mega-project dalam diari ku,yang sangat full dgn kemahiran insaniah.Aiseh!!
Dah la saya tak pandai dan petah bercakap dan gagap! huhu

9 Julai-10 Julai 2009:

Football Selection bertempat di kompleks Sukan UMS (macam xde harapan plak)

13 Julai 2009:

Chess selection bertempat di Kompleks Sukan UMS(1 petang)

14 Julai 2009:

Bicara Siswa bertempat di Dewan Canselor UMS
(tengok yob TV 1 pukul 9 malam)

17 Julai 2009-19 Julai 2009:

Program Pemantapan Modal Insan 2009 bertempat di Masjid UMS

Tertakluk pada pindaan seterusnya.

Alhamdulillah.

Thursday, July 9, 2009

Minggu Suai Mesra UMS

Hari MSM atau Minggu Suai Mesra 2009 merupakan minggu orientasi untuk mahasiswa baru Universiti Malaysia Sabah untuk menyesuaikan diri sama ada di kampus dan diluar kampus.
Dalam minggu tersebut,banyak tetamu VIP berjaya menghadirkan diri pada majlis-majlis besar terutama perasmian minggu suai mesra yang diketuai oleh Ketua Pengarah MSM 2009,Azizul bin Julirin,pelajar jurusan Sains Akuakultur(mukenya macam akhi Shafiq Zulakifli,sebijik,hehe).dan banyak tetamu kehormat atau VIP seperti Naib Canselor yang menghadiri Majlis Aku Janji & Ikrar dan Majlis Persembahan Bakat yang tak best tu disebabkan keletihan yang mengharungi diri ini.
Tetapi dalam bestnya disini pun ada yang tak bestnya sepanjang orientasi ni.

Yang Best:


1)Dapat berkenalan dengan kawan-kawan baru dari seluruh Malaysia


2)Dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kampus yang kurang dari segi facilities(rak baju
kecik nak mampus)


3) Dapat menguatkan stamina sebab jarak antara kampus dengan Dewan Canselor agak jauh
dan berbukit-bukau(mule2 tak larat,tapi lama2,ok la)

4)dapat makan free(alhamdulillah,yeye walaupon tak sedap,haha)tapi untuk minggu suai mesra
je la


Yang tak Best:

Satu je yang tak best;
Pada 2 Julai lalu,kami mahasiswa terpaksa bergegas pulang ke kampus masing2 selepas taklimat Universiti pada pukul 6.15 petang.Yang saya marah sebenarnya ialah tentang kelewatan kedatangan VIP dan ucapan yang panjang lebar yang memaksa kami balik lambat.Jadi,masuk waktu Maghrib ialah pada pukul 6.34 ,bermakna ada 19 minit sahaja masa untuk kami selesaikan solat asar kami.Tetapi semasa majlis tu berlangsung,pihak PSM telah membenarkan 5 orang untuk keluar dan menyelesaikan solat asar.Tetapi kebanyakan ‘budak’ yang pi solat sebenarnya melepak kat tepi tangga dan merokok smpai ditangkap oleh pihak PSM untuk tindakan yg selanjutnya.Adakah ini ciri-ciri modal insan untuk masa akan datang? Fikir-fikirkanlah ye yob!
Jadinya,bnyk kritikan yg telah diberikan oleh kami semasa sesi soal jawab antara MPP(Majlis Perwakilan Pelajar) tentang masalah ini.

*Program2 gak,tapi solat jangan la lupe yob!*

Actually,this University has its own panggilan.

Nak taw apa panggilan utk Universiti ni?

Kata senior batch 08/09 Geologi,University Masalah Sokmo.

Haha... 